BM3 MEDAN | Masyarakat Minang  diharapkan ikut serta dalam penanggulangan tuberkulosis (TB) di Medan. Hal ini dikarena peran aktif  masyarakat Minang di Kota Medan sangat dibutuhkan agar penanggulangan TB dapat berjalan lebih efektif dan efisien.

Ketua Jaringan Kesehatan Masyarakat (JKM), Delyuzar mengatakan, tokoh agama dan masyarakat minang di Kota Medan  mempunyai  peranan penting dalam mensukseskan program pemberantasan penyakit TB.

Karenanya, untuk memperluas jangkauan layanan DOTS (Directly Observed Treatment Short Courses) bagi masyarakat, peran tokoh agama dan sangat dibutuhkan. Bahkan, dalam kesmepatan itu, dicetuskan Gerakan Seribu Masyarakat Minang (Gebu Minang) untuk mengentaskan tuberkulosis di Kota Medan.

Untuk mensukseskan tujuan program DOTS, yakni menurunkan angka kesakitan dan meningkatkan angka kesembuhan penderita TB, perlu diadakan advokasi kepada tokoh-tokoh agama yang ada di Sumatera Utara (Sumut), khususnya di Medan tentang bahaya TB dan urgensi penanggulangan TB yang sudah sangat mendesak. Karena hingga kini, masih banyak kasus TB yang belum ditemukan di masyarakat dan berpotensi besar untuk penularan.

“Kita  berharap keterlibatan tokoh agama di kota Medan akan menghasilkan jejaring yang kuat dan mampu mensosialisasikan dan mengadvokasi masyarakat untuk sadar dan memberi perhatian lebih kepada penyakit TB. Sehingga dapat menurunkan angka kesakitan dan meningkatkan angka kesembuhan pasien tuberkulosis,” ujar Delyuzar pada acara Pelatihan TB dan Raker Tokoh Masyarakat dan Tokoh Agama BM3 (Badan Musyawarah Masyarakat Minang) Kota Medan di Hotel Garuda Plaza, Kamis (19/2/2015).

Melalui kerjasama ini, JKM sebagai perwakilan komponen masyarakat yang terpilih oleh USAID sebagai pelaksana program CEPAT (Community Empowerment of People Against Tobercolusis) berharap , Medan dapat  memetakan arah pelaksanaan program yang berkaitan dengan aspek sosialisasi dan advokasi TB kepada masyarakat luas melalui peran strategis tokoh-tokoh agama. Karena dia yakin, sosialisasi akan dapat lebih baik dan efektif kepada masyarakat melalui pendekatan agama.

“Tujuan ini  untuk lebih meningkatkan akses masyarakat terutama penderita TB kepada layanan TB di unit pelayanan kesehatan dapat terlaksana dengan baik,” tukasnya.

Kepala Seksi Penanggulangan dan Pencegahan Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Sumut, Sukarni mengaku estimasi kasus TB diperkirakan sekitar 36 ribu jiwa di Sumut. Namun, hingga akhir 2014, baru 20 ribu jiwa yang tercatat atau ditangani dengan strategi DOTS. Dari jumlah ini, sambungnya, diperkirakan masih sekitar 16 ribu jiwa lagi penderita yang belum ditangani dengan benar atau tidak mendapatkan pengobatan.

“Karenanya, kerjasama dengan lembaga-lembaga social serta tokoh-tokoh masyarakat sangat dibutuhkan dalam penanggulangan ini. Agar mereka (tokoh agama dan masyarakat) mengerti bagaimana gejala dan penanganan dini, pelatihan-pelatihan seperti ini sangat diperlukan,” jelasnya.

Jadi, jelasnya, jika ditemukan tetangga atau kerabat dengan gejala TB, masyarakat bisa langsung membawa untuk diperiksakan di Puskesmas terdekat. Karena semua Puskesmas di Sumut, sudah bisa melayani penderita TB ini.(suhardiman – www.bm3medan.org)