10Setelah India, Indonesia menempati posisi kedua terbanyak penderita tuberculosis (TB). Dari catatan tahun 2014, jumlah penderita TB di Indonesia sebanyak 39.706 kasus, yang terpantau 22.322 kasus, dan yang tidak terpantau 17.674 kasus.
“Di Sumatera Utara (Sumut) ditemukan 600 kasus per tahun,” kata Direktur Jaringan Kesehatan Masyarakat (JKM) dr Delyuzar Sp PA(K) di Sekertariat The Lafran Institute, Jalan Sei Petani, Medan, Sabtu (20/2) sore.

Menurut dr Delyuzar, penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara (Cepat) program JKM Indonesia, Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Sumut dan The Lafran Institute, bertujuan untuk pemberdayaan masyarakat dalam pemberantasan tuberculosis di Provinsi Sumut (Provsu).

Nota kesepahaman itu langsung ditandatangani Ketua DPD KNPI Sumut periode 2015 – 2018, Sugiat Santoso, Direktur The Lafran Institute Dr Ediyanto MSi dan Direktur JKM Indonesia dr Delyuzar Sp PA(K).

“Penderita TB sangat rentan pada usia 25-46 tahun. Oleh karena itu, peran pemuda sngat penting dalam hal ini,” jelasnya.

Dia menambahkan dalam menyambut Hari Tuberkulosis (TB) sedunia pada 24 Maret 2016, pihaknya melaksanakan program penggerakan masyarakat dalam penanggulangan TB yang disebut dengan istilah CEPAT (Community Empowerment People Against Tuberculosis).

“Jadi program ini bertujuan menguatkan masyarakat dalam menghadapi TB itu sendiri, di mana masyarakat akan dimobilisasi dan dididik untuk terlibat dalam program penanggulangan TB dan pada akhirnya mereka bekerja melakukan advokasi bersama para pengambil kebijakan,” katanya.

Sementara Ketua DPD KNPI Sumut Sugiat Santoso menyambut baik dan akan membentuk divisi dalam organisasi pemuda khusus mengadvokasi untuk terwujudnya pemuda produktif. “Pemuda yang sakit tidak akan produktif. KNPI siap dan aktif untuk hadirkan pemuda dan mengadvokasinya,” tegas Sugiat Santoso.