Jaringan Kesehatan Masyarakat melibatkan masyarakat dalam upaya penangggulangan penyakit tuberkulosis melalui program Community Empowerment People Against Tuberculosis.

Direktur Jaringan Kesehatan Masyarakat (JKM) dr Delyuzar di Medan, Senin, mengatakan dalam menyambut Hari Tuberkulosis (TB) sedunia pada 24 Maret 2013, pihaknya melaksanakan program penggerakan masyarakat dalam penanggulangan TB yang disebut dengan istilah CEPAT (Community Empowerment People Against Tuberculosis).

“Jadi program ini bertujuan menguatkan masyarakat dalam menghadapi TB itu sendiri, di mana masyarakat akan dimobilisasi dan dididik untuk terlibat dalam program penanggulangan TB dan pada akhirnya mereka bekerja melakukan advokasi bersama para pengambil kebijakan,” katanya.

Ia mengatakan pihaknya tengah melakukan pelatihan bagi 25 orang yang akan menjadi pelatih untuk setiap tokoh masyarakat dan tokoh agama. Dengan demikian diharapkan setiap tokoh mempunyai peran masing-masing di tengah masyarakat.

Misalnya, tokoh agama diharapkan mampu melakukan penyuluhan tentang TB dan cara pencegahan TB melalui bahasa-bahasa agama, sedangkan tokoh masyarakat diharapkan mampu menjadi pendamping atau malakukan advokasi sosial bagi masyarakat.

Tidak hanya itu, pihaknya juga akan mempersiapkan orang-orang yang akan membuat model-model sosialisasi dalam bentuk pertunjukan seni tradisional dan itu tidak hanya dilakukan di Sumatera Utara tetapi juga di laksanakan di Sumatera Barat dan Jakarta.

“Orang-orang tersebut adalah kader yang merupakan tokoh kelompok di tengah masyarakat yang rentan terhadap TB seperti kelompok pemulung, pedagang kecil, dan orang dengan HIV/AIDS yang telah positif terhadap TB. Orang-orang ini akan bekerja selama lima tahun,” katanya.

Sementara Kepala instalasi mikrobiologi klinik RSUP Adam Malik dr R Lia K Iswara mengatakan dalam hal diagnosa TB, di Sumut sudah lebih baik kerena tersedianya sarana dan prasarana ditambah lagi sumber daya manusia yang sudah melakukan pelatihan-pelatihan sampai ke luar negeri.

“Untuk perkembangan TB sendiri, di Sumut sudah mulai baik, hal ini karena adanya peningkatan perbaikan sarana dan prasarana seperti laboratorium. Di Indonesia sendiri, sudah ada lima laboratorium untuk mendiagnosa TB dan saat ini ada empat lagi yang ditambah, di Papua, Semarang, UGM dan di RSUP Adam Malik,” katanya.