USAID bekerjasama dengan Departemen Kesehatan meluncurkan program CEPAT (Community Empowerment of People Against Tuberculosis). Program USAID dengan dana 12.000.000 US Dollar itu berupaya membantu pemerintah Indonesia untuk memerangi tuberkulosis (TB) sejak dini dengan diagnosis efektif dan pengobatan.

“USAID melalui program CEPAT akan membantu meningkatkan kesadaran tentang TB. Kami juga akan mendukung pasien TB untuk berobat dan disembuhkan. USAID bangga bekerjasama dengan Kementerian Kesehatan dan mendukung program TB di Indonesia,” kata Wakil Direktur USAID, Derrick Brown.

CEPAT akan menyasar pasien TB untuk dites, diobati dan disembuhkan di wilayah Jakarta, Jawa Timur, Jawa Barat, Banten , Sumatera Barat, Nusa Tenggara Barat, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Papua , dan Papua Barat. Di antaranya orang-orang yang tinggal di daerah kumuh perkotaan, pengungsi dan orang-orang dengan kekebalan berkurang akibat kekurangan gizi atau terinfeksi HIV.

Pada awal tahun ini, USAID memberikan pengakuan atas kepemimpinan global Indonesia dalam penanggulangan tuberkulosis dalam acara yang diselenggarakan di Washington DC dan Jakarta, dan Indonesia berada pada jalurnya untuk mencapai Tujuan Pembangunan Milenium di bidang TB. Tetapi kemajuan ini perlu dipercepat karena Indonesia masih merupakan salah satu di antara lima negara dengan beban TB tertinggi di dunia.

Ada sekitar 450.000 kasus tuberkulosis baru dan 65.000 kematian terkait TB di Indonesia setiap tahunnya. Sementara, sekitar 30 persen kasus TB di Indonesia diperkirakan tidak terdeteksi, dan banyak pasien yang didiagnosis terlambat.

Program CEPAT USAID akan dilaksanakan oleh tiga organisasi mitra Indonesia: Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama (LKNU) , Jaringan Kesehatan Masyarakat (JKM) dan Katolik Roma Keuskupan Timika (RCD).

Kerjasama USAID dengan Pemerintah Indonesia dan pemerintah lokal ini tak lain, untuk mengurangi ancaman penyakit menular dan memberikan pelayanan untuk mengurangi kematian dapat dicegah.

Lebih lanjut Brown mengatakan, “dukungan kami untuk memerangi tuberkulosis merupakan komponen penting dari kerjasama AS dengan Indonesia di bidang kesehatan, yang merupakan komitmen bersama yang dibuat oleh Presiden Obama dan Presiden Yudhoyono untuk memperdalam bilateral hubungan antara Amerika Serikat dan Indonesia.”

Sementara itu, Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan, Tjandra Yoga Aditama mengatakan CEPAT mendukung keberhasilan Program Tuberkulosis Nasional dalam pemerataan akses terhadap diagnosis dini dan pengobtan tuberkulosis yang berkualitas oleh penyedia layanan kesehatan.

Lebih lanjut, Tjandra menjelaskan program CEPAT dirancang bersama dengan Program Tuberkulosis Nasional sehingga diharapkan mendukung Penguatan Sistem Pemberdayaan Masyarakat, salah satu dari enam pilar Model Komprehensif Program Tuberkulosis Nasional dalam pengendalian tuberkulosis di Indonesia.

Deteksi Kasus, Penting untuk Penanggulangan Tuberkulosis

Terbatasnya deteksi kasus, keterlambatan diagnosis serta pengetahuan tentang Tuberkulosis yang terbatas masih menjadi permasalahan. Bahkan bila hal ini tidak cepat diatasi, Tuberculosis (TB) dapat kembali meningkat. Hal itu dikatakan Ketua Jaringan Kesehatan Masyarakat (JKM) dr Delyuzar SpPA, kemarin.

“Diperlukan pendekatan yang komprehensif dan terkoordinasi untuk melibatkan masyarakat dalam mendukung pelayanan TB, termasuk membantu pasien agar tetap melakukan pengobatan, proaktif mengidentifikasi, dan advokasi peningkatan kualitas layanan untuk Tuberculosis,” ujarnya.

Tantangan itu, sebutnya, lebih mendominasi kelompok masyarakat yang tinggal di kawasan kumuh, kelompok miskin perkotaan, nelayan, masyarakat rawan gizi, dan orang yang memang hidup dan berkontak langsung dengan penderita TB, Multiple Drug Resistance (MDR-TB) dan TB-HIV.

Untuk itu, lanjutnya, pihaknya bersama JKM Medan, bagian Microbiologi UI, Microbiologi USU, dan Fakultas kedokteran USU, Fakultas Kedokteran Universitas Andalas, Westat, pakar TB, dan dengan dukungan USAID membentuk program Community Empowerment Of People Againts Tuberculosis TB (CEPAT) untuk melatih masyarakat tentang mobilisasi, advokasi dan sosial agar mampu memberdayakan masyarakat guna mencegah, mendeteksi, dan mengobati TB.

“Program ini akan diadakan di tiga Provinsi DKI Jakarta, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Khusus di Sumut kita akan fokuskan di Kabupaten Serdang Bedagai, Deli Serdang, Tanjung Balai, dan Kota Medan. Kita pilih daerah-daerah ini karena memang di daerah ini yang kami anggap rentan terjangkit TB. Di sini nanti kita akan gunakan pendekatan Advocation, Communication and Social Mobilization (ACSM),” katanya seraya menambahkan melalui program ini, masyarakat akan dimobilisasi dan dididik untuk terlibat dalam program penanggulangan TB dan pada akhirnya mereka bekerja melakukan advokasi bersama para pengambil kebijakan.

Tambahnya, program yang direncanakan hingga 5 tahun ini, diharapkan mampu memberi kontribusi pada capaian program TB Nasional.

“Adapun targetnya, di antaranya adalah TB suspect yang akan memeriksakan diri hingga 70.808 pasien, pasien Tuberkulosis yang menjalani pengobatan sebanyak 7.080 pasien, tingkat pengetahuan kesadaran tentang informasi kunci TB mencapai 60 persen, kampanye melalui media kesenian 200 kali, dan membentuk sebanyak 350 kelompok peduli TB di 3 provinsi tersebut,” ujarnya.

Artikel ini dibagikan oleh:
Ferdinand CR

Sumber:

www.suaramerdeka.com, www.jurnas.com, harianandalas.com

Ilustrasi:

tclw.das.ohio.gov
– See more at: http://fitzania.com/program-bantuan-tuberkulosis/#sthash.jp4LXF20.dpuf