Ciceritakan dan didesikasikan kembali dengan tidak mengurangi aslinya oleh :
Harianto ( COD Prop. Sumut ) Surat terbuka untuk Ibu Mentri Kesehatan.

Pergi kamu dari rumah ini, saya sudah gak tahan lagi dengan kondisi kamu yang setiap hari Cuma batuk dan batuk melulu, badan sudah kerempeng begitu, apa lagi yang saya harapkan dari kamu

Itulah kalimat hardikan yang saya dengar dari istri yang selama beberapa tahun ini menjadi pendamping hidup saya dan setidaknya kalimat itulah yang terus menjadi ingatan saya bahkan sampai detik ini.

Perkenalkan nama saya Zulhendrizon usia saya ± 48 tahun, saya  seorang mantan pasien TB yang dulunya berprofesi sebagai Guru Honorer di sebuah sekolah negeri untuk mata pelajaran apa saja yang bisa saya sampaikan, usaha sampingan saya yang lain adalah sebagai tukang perabot rumah tangga dan pembuatan meubel di lingkungan saya bertempat tinggal.Saya bertempat tinggal di Paninggahan, sebuah daerah yang sangat indah di Kecamatan Junjung sirih Kabupaten Solok Propinsi Sumatera Barat tempat itulah yang menjadi awal kehidupan saya sehingga saya dapat berbagi kisah ini kepada semuanya.Di awal tahun 2000 Saat batuk yang berpanjangan mendera saya sampai beberapa minggu dan demam yang terkadang datang terkadang hilang, selera makan pun hilang, tidur di malam hari terus berkeringat, dan perasaan badan yang tak nyaman bukan tidak ada upaya untuk berusaha menyembuhkan penyakit ini,  hampir setahun saya bergantung dengan obat-obatan yang saya beli di toko, namun kesembuhan tak juga mengunjungi saya, bukan tidak juga ada usaha lain yang harus saya lakukan agar saya juga tidak terus menerus batuk bahkan sangat tidak saya inginkan kalau pada saat itu batuk itu sampai mengeluarkan darah sampai membuat badan saya lemas dan lemah dan tak bertenaga.Pada akhirnya saya memutuskan untuk memeriksakan diri saya atas penyakit yang saya derita ini ke sebuah Puskesmas di Paninggahan dan saya dinyatakan positif (+) terkena TB atau Tuberculosis sejak saat itu maka mulailah saya mengonsumsi obat TB program enam bulan pada pertengahan Juli Tahun 2001.Petaka saya belum berakhir Saya mulai menerima perlakuan yang tidak layak dari istri saya setiap hari, bahkan istri saya mengusir saya disaat saya membutuhkan perawatan darinya, karna dia beranggapan bahwa penyakit TB yang menggerogoti saya tidak akan pernah sembuh untuk selamanya.Puncaknya adalah ketika ia mengatakan “  Pergi kamu dari rumah ini, saya sudah gak tahan lagi dengan kondisi kamu yang setiap hari Cuma batuk dan batuk melulu, badan sudah kerempeng begitu, apa lagi yang saya harapkan dari kamu  “ kalimat itu yang membuat saya harus mengambil sikap untuk keluar dari rumah di mana saya tinggal dan berteduh setiap hari di dalamnya apalagi rumah itu adalah rumah mertua saya dan saya tak akan dapat berbuat banyak karnanya, akhirnya saya putuskan untuk pergi meskipun saya masih dalam keadaan sakit, dan yang paling menyakitkan buat saya yaitu pada saat bersamaan pula istri saya dengan paksa meminta agar saya menceraikannya sehingga  saya tidak tahu harus pergi kemana, walau sudah saya katakan “ apakah kamu tega membiarkan saya dengan kondisi begini untuk harus keluar dari rumah ini “ namun tetap saja ia mengatakan “ saya tidak perduli lagi dengan kamu “ katanya.Saat itu saya tidak tau harus tinggal dimana karena saya sudah tidak punya ibu dan saudara yang lain, sampai suatu waktu saya beruntung ada seorang sahabat yang membantu saya untuk mengajak saya tinggal bersama keluarganya.Dikarenakan penyakit TB, cita-cita saya untuk menjadi guru PNS terputus begitu saja, ekonomi saya hancur, dan anak-anak saya ikut terlunta-lunta menjadi korban dari dampak perceraian yang terjadi. Penderitaan inilah yang menumbuhkan motiviasi dalam diri saya untuk menjadi sukarelawan penanggulangan penyakit TB begitu saya sembuh dari penyakit TB tersebut.Pada bulan Januari tahun 2004. Untuk membangun kembali ekonomi saya yang telah hancur, saya beralih profesi sebagai tukang ojek, sambil mengojek itulah saya mencari dan mengajak orang-orang yang dicurigai terkena TB untuk memeriksakan diri mereka ke Puskesmas, bahkan tak jarang terkadang dari mereka yang saya ajak memeriksakan diri ke Puskesmas saya tidak menarik ongkos ojek asalkan mereka mau untuk memeriksakan penyakitnya.Begitu juga bagi penderita TB yang sedang pengobatan, saya ikut mengawasi dan membantu mereka, saya mengujungi mereka ( home visit ) minimal dua kali dalam seminggu, bahkan bagi pasien yang dirujuk ke RSUD Solok, RSUP M. Jamil Padang dan ke BP4 pun saya mengantarnya langsung dengan mobil yang saya pinjam demi memudahkan mereka dalam urusan pengobatannya.Semua ini saya lakukan tanpa pamrih dan tanpa berharap balas jasa dari siapapun juga, walaupun terkadang saya juga harus mengeluarkan uang kantong sebatas kemampuan saya untuk membantu pasien TB yang betul-betul kurang mampu, namun hati sanubari saya sangatlah merasa lega dapat melakukan tugas mulia ini.Pada tanggal 3 Desember 2009 saya kembali mendirikan rumah tangga dan hidup lebih berbahagia, saya membawa 2 ( dua ) orang putra dan 3 ( tiga ) orang putri hasil dari Pernikahan saya yang pertama untuk hidup bersama dengan istri saya yang baru, yang sangat menyayangi saya yang juga membawa 3 ( tiga ) orang putra dari pernikahan pertamanya semua hidup akur dan saling membantu dalam kebersamaanKini saya bukan lagi pendrita TB, bukan lagi tukang ojek dan saya bersyukur kepada Allah dengan rejekiNya saya telah mendirikan industri rumah tangga berupa Industri pengolahan makanan. Selain itu saya juga telah mendirikan organisasi sosial masyarakat “IKATAN MASYARAKAT PEDULI TUBERCULOSIS (IMPuT)” yang saya sendiri menjadi ketuanya, Organisasi sosial ini dibina oleh Bapak Wali Nagari dan Kepala Puskesmas Paninggahan Kecamatan Junjung Sirih Kabupaten Solok.

Saat ini juga  saya bergabung dengan NGO Jaringan Kesejahteraan / Kesehatan Masyarakat ( JKM ) yang ternyata mempunyai Misi dan pandangan yang sama terhadap perjuangan yang selama  ini saya lakukan, semoga ini akan lebih membuat saya lebih bersemangat lagi untuk menjadikan daerah  saya sebagai daerah yang bebas dari TB setelah ini.

Inilah curahan hati saya seorang mantan penderita TB ini kiranya dapat menjadi motivasi bagi penderita TB lainnya untuk terus melawan penyakit ini dan menyampaikan kepada semua orang untuk terusmelakukan upaya melawan TB.

Prinsip saya adalah TB dapat disembuhkan dengan cara disiplin meminum obat TB.

Wassalam ;

( Zulhendrizon / Ex. Pasien TB / COD District Solok )